Buka Lapangan Pekerjaan

PENGAKUAN Kepala Disnakertrans Kota Mataram, H. M. Syaiful Mukmin terkait tingginya animo masyarakat Kota Mataram bekerja di luar negeri sebagai TKI maupun TKW, cukup mengejutkan. Pasalnya, dulu fenomenanya tidak seperti ini. Masyarakat Kota Mataram lebih suka bekerja di daerah sendiri ketimbang menjadi TKI ataupun TKW. Terlebih, gencarnya pemberitaan mengenai TKW yang kerap disiksa atasannya di sana, membuat masyarakat Mataram enggan mengadu nasib menjadi TKI ataupun TKW.

Seiring berjalannya waktu, Mataram tak lagi menyediakan banyak peluang kerja bagi warganya. Sebagai ibukota Provinsi NTB, Mataram banyak dilirik investor nasional untuk berinvestasi. Dalam lima tahun belakangan, sejumlah perusahaan berdiri di Mataram. Kebanyakan dari perusahaan-perusahaan itu, bergerak dalam bidang jasa perdagangan. Perusahaan dengan merek dagang nasional, kini sangat mudah dijumpai di Mataram.

Masuknya perusahaan-perusahaan nasional berinvestasi di Mataram, membuka kesempatan bekerja. Tidak saja bagi warga Mataram, tetapi juga warga dari luar daerah. Sebagai perusahaan nasional, tentu tidak akan sembarangan dalam merekrut tenaga kerja. Ada kriteria yang mereka tentukan sesuai standar dari perusahaan masing-masing. Meskipun Pemkot Mataram menekankan kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Mataram, agar memprioritaskan warga Mataram sebagai tenaga kerja di perusahaan itu, namun nyatanya kompetisi perekrutan tenaga kerja dilakukan secara terbuka.

Artinya, meskipun banyak warga Mataram yang masuk dalam kategori angkatan kerja, sepanjang tidak memenuhi kriteria yang dicari oleh perusahaan, Pemkot Mataram pun tidak bisa memaksakan kehendak, agar warga mereka diterima di sana. Tidak jarang, posisi strategis di perusahaan itu diduduki oleh warga luar. Sementara, warga Mataram hanya menempati posisi staf biasa.

Kondisi ini harus menjadi bahan evaluasi bagi Pemkot Mataram. Bahwa, kualitas sangat menentukan warga bisa bekerja di perusahaan-perusahaan itu atau sebaliknya. Angkatan kerja di Mataram, didominasi oleh lulusan SMA sederajat, kemudian lulusan S1 dan juga lulusan SMP serta SD. Rendahnya kualitas SDM di Kota Mataram, membuat mereka sulit bersaing di dunia kerja. Terlebih untuk jabatan-jabatan tertentu yang membutuhkan keahlian khusus.

Berkurangnya kesempatan kerja, membuat Mataram tidak lagi menarik bagi warganya. Sehingga, menjadi TKI ataupun TKW adalah pilihan yang dianggap paling realistis. Keadaan ini harus disikapi oleh Pemkot Mataram melalui SKPD-SKPD yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Tingginya animo warga Mataram menjadi TKI dan TKW di luar negeri, sesungguhnya bukan semata-mata masalah pilihan. Hal itu juga akan berkaitan dengan kewibawaan pemerintah daerah.

Ketika semakin banyak warga yang menjatuhkan pilihan menjadi TKI atau TKW, saat itu kewibawaan pemerintah daerah dipertanyakan. Pemerintah daerah dianggap tidak mampu bahkan gagal membuat warganya sejahtera dengan cara menyediakan sebanyak-banyaknya lapangan pekerjaan dengan gaji yang memadai. Untuk itu, dibutuhkan inovasi dan kreativitas dari pemerintah daerah untuk dapat membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya. Sehingga, masyarakat tak lagi menjadi TKI ataupun TKW. Jangan sampai, karena tidak ada upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah, Mataram menjadi kantong TKI berikutnya setelah beberapa kabupaten di Pulau Lombok. (*)


Komentar