DULU,
kerajinan cukli Kota Mataram sangat terkenal. Sentra kerajinan cukli Kota
Mataram di Sayang-Sayang ramai dikunjungi. Tidak saja pengunjung yang notabene
warga lokal, tapi juga pengunjung yang datang dari luar daerah bahkan mancanegara.
Saat puncak kejayaan cukli ini, kerajinan tersebuh bahkan sampai go
internasional. Banyak perajin yang melayani pemesanan dari mancanegara.
Motif
yang khas dengan bahan baku pilihan, membuat kerajinan cukli ini berbeda dengan
furniture yang dijual di meubel-meubel. Sayangnya, kejayaan cukli ini tidak
berlangsung lama. Beberapa tahun belakangan, nama kerajinan cukli mulai
meredup. Meredupnya kejayaan kerajinan cukli ini diikuti dengan nasib para
perajin yang kesejahteraannya merosot.
Bagaimana
tidak, di Lingkungan Lendang Re dan Rungkang Jangkuk Kelurahan Sayang-Sayang
misalnya. Di sana, sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari kerajinan
cukli. Tidak heran kalau dulunya Lendang Re dan Rungkang Jangkuk menjadi ikon
kerajinan cukli. Kini, seperti diakui Lurah Sayang-Sayang, banyak perajin cukli
di dua lingkungan itu terpaksa beralih profesi.
Kondisi
ini tidak terlepas dari lemahnya peran pemerintah daerah. Semestinya ada upaya
intervensi kebijakan yang diambil oleh Pemkot Mataram untuk tetap
mempertahankan kejayaan kerajinan cukli. Misalnya, walikota bisa saja membuat
imbauan bahkan peraturan Walikota yang ‘’mengharuskan’’ penggunaan cukli.
Minimal kebijakan itu menyasar semua lini pemerintahan.
Sebetulnya
saran ini juga sudah sering diungkapkan baik oleh perajin maupun dorongan dari
kalangan DPRD. Tetapi, sampai saat ini, belum ada kebijakan konkret yang
mengarah ke sana. Kalaupun ada penggunaan cukli di lingkup pemerintahan,
jumlahnya tidak banyak. Hal ini bisa dilihat di semua SKPD yang ada di lingkup
Pemkot Mataram. Hanya sedikit sekali yang menggunakan cukli sebagai furniture.
Pemerintah
lebih tertarik pada produk-produk yang dibuat oleh pabrik. Misalnya kursi,
meja, lemari dan lain sebagainya. Semuanya bisa dibuat oleh para perajin cukli.
Hanya saja, Pemkot Mataram nampaknya belum banyak memberi ruang bagi perajin
cukli untuk ikut ambil bagian dalam pemerintahan. Tidak adanya regulasi yang
mengikat, membuat para pengambil kebijakan di masing-masing SKPD leluasa
memilih furniture hasil pabrikan.
Kondisi
itu akhirnya berkontribusi membuat kerajinan cukli makin terpuruk. Nasib para
perajin cukli itu mengusik hati Lurah Sayang-Sayang, Romi Karmin. Wajar kalau
kemudian dia bercita-cita mengembalikan lagi kejayaan kerajinan cukli ini. Sebagai
perpanjangan tangan Pemkot Mataram di tingkat kelurahan, Lurah Sayang-Sayang
diharapkan punya inovasi dan posisi tawar terhadap Pemkot Mataram.
Paling
tidak, Lurah Sayang-Sayang dapat meyakinkan pengambil kebijakan di Pemkot
Mataram, dalam hal ini Walikota, Wakil Walikota maupun Sekda, agar cukli ini
ada di semua SKPD. Itu sebagai salah satu bentuk dukungan kepada para perajin
cukli. Artinya, kalau pemerintah sudah bangga menggunakan produk kerajinan
lokal dari para perajin cukli, tentu akan mudah mengajak masyarakat maupun
pengunjung dari luar daerah untuk memilih cukli. Dengan usaha bersama sesuai
dengan tupoksi masing-masing, diharapkan dapat mengembalikan kejayaan cukli
seperti dulu. (*)
Komentar