Libatkan Pihak Ketiga

MANGKRAKNYA Osamtu (Pengolahan Sampah Terpadu) Kota Mataram yang berada di TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Kota Mataram Lingkungan Sandubaya sangat disayangkan. Osamtu yang pembangunannya sejak dua tahun lalu, hingga saat ini tidak kunjung dapat dimanfaatkan. Seperti disampaikan Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, belum dimanfaatkannya Osamtu menyusul adanya hasil kajian dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram.

Kajian yang dilakukan DLH bahwa, pemanfaatan Osamtu menimbulkan masalah baru. Yakni pencemaran udara dan juga tanah. Bahkan, dalam masa ujicoba, asap yang ditimbulkan oleh tungku pembakaran Osamtu kerap dikeluhkan warga. Wajar kemudian kalau kalangan Dewan tidak menyetujui anggaran untuk duplikasi dan operasional Osamtu ini. Osamtu yang masih terganjal masalah pencemaran ini dikhawatirkan bakal menjadi masalah di kemudian hari.

Sampai saat ini, penemu Osamtu nyatanya belum menemukan cara untuk meminimalisasi dampak ikutan dari operasional Osamtu tersebut. Dari awal ide pembangunan Osamtu ini memang menimbulkan pro kontra. Terutama di kalangan legislatif. Ketika disodorkan program Osamtu saat pembahasan anggaran, Dewan bahkan memberi tanda bintang alias menunda penganggaran operasional Osamtu dengan alasan Osamtu itu belum memenuhi kriteria.

Dari 40 anggota Dewan, lebih banyak yang pesimis terhadap program Osamtu tersebut. Legislatif berpandangan, terhadap masalah penanganan kebersihan di Kota Mataram, Pemkot terlalu banyak program. Mulai dari Osamtu hingga pengadaan kendaraan roda tiga. Dari sejumlah program yang diciptakan untuk menjawab masalah penanganan kebersihan di Kota Mataram, tidak semuanya efektif.

Kalau mau jujur, banyak dari program tersebut justru mubazir. Sebut saja Osamtu yang telah menelan anggaran sekitar Rp 200 juta. Padahal, awalnya mantan Kepala Bappeda Kota Mataram yang kini menjabat Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang sangat optimis bahwa Osamtu dapat menekan jumlah sampah yang masuk ke TPA Kebon Kongok. Alih-alih berfungsi sesuai harapan, ujicoba Osamtupun kerap menuai protes warga.

Namun demikian, Pemkot Mataram seperti disampaikan Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh tetap komit terhadap masalah penanganan sampah. Orang nomor satu di Kota Mataram itu dalam kesempatan rapat paripurna penetapan rekomendasi LKPJ Walikota baru-baru ini mengungkapkan keinginan Pemkot Mataram untuk melakukan pengadaan insinerator atau alat penghancur sampah.

Walikota optimis masalah sampah dapat tertangani sesuai harapan. Apalagi, ada investor Korea yang menyampaikan keinginan mereka untuk berinvestasi dalam bidang pengolahan sampah menjadi energi listrik terbarukan. Walikota bahkan menyebutkan, jika investasi itu sudah dimulai, sampah-sampah yang ada di Mataram, kemungkinan tidak cukup untuk menyokong program tersebut. Bahkan, kata Walikota, kemungkinan Mataram akan membutuhkan sampah dari daerah lain.

Namun apapun itu, Pemkot Mataram harus ada kajian yang matang sebelum memutuskan akan melaksanakan sebuah program. Jangan sampai, program itu menjadi mubazir setelah menelan anggaran daerah yang cukup besar. Dalam hal penanganan kebersihan, ada baiknya Pemkot Mataram meniru apa yang telah dilakukan beberapa daerah lain yang terbukti telah berhasil. Seperti pelibatan peran masyarakat dan juga pihak ketiga melali program tanggung jawab social yang dimilikinya. Ini akan mengurangi beban daerah dalam penanganan sampah. Lagipula, mewujudkan daerah yang bersih dan bebas sampah, bukan semata-mata menjadi tugas pemerintah, melainkan tugas semua elemen masyarakat. (*)

Komentar