BANYAKNYA
pedagang Pasar Mandalika yang memilih pindah ke pasar swasta milik PT. Pade
Angen seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi Pemkot Mataram. Bukan malah
‘’mengintervensi’’ para pedagang yang lebih memilih pasar swasta itu. Pedagang
pindah, tentu ada alasannya. Salah satunya tentu karena faktor kenyamanan.
Pasar
swasta dianggap lebih nyaman ketimbang Pasar Mandalika yang notabene merupakan
pasar plat merah. Kenyamanan itu diukur dari luas los pasar hingga kebersihan
pasar. Tidak hanya Pasar Mandalika, sejumlah pasar tradisional milik Pemkot
Mataram, juga kerap dikeluhkan dengan kondisi yang sama. Memang, di hampir
semua pasar tradisional yang ada di Kota Mataram, terkesan kumuh.
Apalagi
saat musim hujan, kekumuhan di pasar tradisional semakin bertambah. Sebut saja,
Pasar Kebon Roek dan Pasar Pagesangan. Di Pasar Kebon Roek, limbah ikan kerap
dikeluhkan pengunjung maupun masyarakat yang tinggal di sekitar Pasar Kebon
Roek. Seharusnya, hal ini menjadi atensi Dinas Perdagangan. Tidak adanya
manajemen yang baik dalam pengelolaan pasar tradisional, membuat pasar-pasar
yang ada di Kota Mataram, menjadi amburadul. Intinya, pasar-pasar tradisional
di Mataram, belum nyaman bagi konsumen.
Ketidaktegasan
kepala pasar juga menjadi salah satu faktor pemicu tidak nyamannya kondisi
pasar. Dari awal, ada pembiaran terhadap para pedagang yang ingin berjualan di
mana saja mereka mau. Seperti penjual ikan, daging sapi, daging ayam maupun
sayuran, berkumpul di tempat yang sama. Mestinya ada pemisahan tiap item jenis
jualan para pedagang.
Misalnya,
antara pedagang ikan dan sayur maupun jenis jualan lainnya mestinya ditempatkan
di blok yang berbeda. Sebab, kalau hanya mengikuti kemauan pedagang, tentu
tidak akan pernah ada habisnya. Di sinilah, pemerintah harus mengambil peran.
Pemerintah harus mampu mengkoordinir para pedagang, berikut meyakinkan mereka
bahwa, penataan yang dilakukan pemerintah, semata-mata untuk menciptakan
suasana yang nyaman. Tidak hanya nyaman bagi pedagang tapi juga pagi konsumen.
Karena,
kalau pasar sudah bersih, tertib dan nyaman, konsumen tentu akan senang
berbelanja di sana. Sayangnya, walaupun sudah sering menjadi keluhan, kondisi
pasar-pasar tradisional di Mataram tidak kunjung ada perubahan yang signifikan.
Terutama dari segi kebersihan dan ketertiban. Bahkan di Pasar Kebon Roek dan
Pasar Karang Jasi, pedagang hampir menyatu dengan parkir kendaraan.
Kondisi
ini, akibat ketidakmampuan kepala pasar mengelola pasar yang menjadi tanggung
jawabnya masding-masing. Apa yang menjadi kekhawatiran pada pedagang bahwa
kalau mereka berjualan di blok tertentu, akan sepi pembeli, tidak akan terjadi
sepanjang ada ketegasan dari kepala pasar. Contohnya di Pasar Dasan Agung. Ketika
para pedagang dikelompokkan berdasarkan jenis jualannya, otomatis para pembeli
juga akan mencari mereka, meskipun mereka berjualan di blok paling belakang
ataupun di lantai dua. Ketegasan ini membuat pasar terasa nyaman dan juga
tertib. Mestinya hal yang sama juga dapat diterapkan di pasar-pasar tradisional
lainnya se-Kota Mataram. (*)
Komentar