Penanganan Sampah Belum Maksimal

Muhtar
WAKIL Ketua DPRD Kota Mataram, Muhtar, SH., menilai partisipasi masyarakat dalam rangka membangun kota, salah satunya melalui iuran kebersihan yang dibayarkan melalui rekening PDAM, cukup tinggi. Karena selain membayar retribusi kebersihan melalui rekening PDAM, di lingkungan masing masing, masyarakat juga masih dibebankan membayar iuran serupa yang nilainya jauh lebih tinggi. Sekitar Rp 20 ribu - 30 ribu per bulan. "Partisipasi masyarakat sangat luar biasa saya lihat, tinggal sekarang bagaimana pemerintah mau melayani masyarakat," katanya kepada Suara NTB di DPRD Kota Mataram, Jumat (12/5).

Muhtar mencontohkan di Lingkungan Moncok Karya, Kelurahan Pejarakan, warga di sana swadaya menyewa mobil bak terbuka untuk mengangkut sampah. "Ada yang iuran Rp 10 ribu, ada yang Rp 30 ribu, ada yang Rp 50 ribu, kita sewa mobil, kita angkut sampah itu langsung ke Kebon Kongok," akunya. Terkait tingginya partisipasi masyarakat ini, Pemkot Mataram seharusnya memberikan dukungan maksimal. Sebab, sampai saat ini pun, belum ada solusi yang mampu menuntaskan persoalan sampah di Mataram.

Politisi Gerindra ini mengaku masih sering melihat masyarakat membuang sampah di lahan-lahan kosong yang mereka temukan. Hal itu, menurut Muhtar sebagai bentuk keputusasaan masyarakat bagaimana mengatasi sampah. "Akhirnya mereka buang di lahan yang kosong," cetusnya. Fenomena warga membuang sampah di lahan kosong mengindikasikan bahwa program pemerintah terkait penanganan sampah, belum maksimal.

"Kalau partisipasi masyarakat di Kota Mataram ini tidak perlu diragukan lagi," kata Muhtar. Terkait pernyataan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), dia tidak menyangkal bahwa retribusi kebersihan yang dipungut pemerintah melalui rekening PDAM, belum transparan arah penggunanya. Retribusi kebersihan itu, jika diakumulasikan, Muhtar yakin hasilnya cukup signifikan. "Kalau itu kita manfaatkan dengan baik, saya rasa digunakan untuk memenuhi sarana prasarana," terangnya.


Muhtar mengajak Pemkot Mataram bercermin dari daerah lain. Ia memberi contoh, Kota Surabaya yang luasnya mencapai 350 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mendekati 3 juta jiwa, mampu membuat kota pahlawan itu bersih. Mataram pun sebenarnya bisa seperti Surabaya. Tinggal sekarang bagaimana tata kelola persampahan. Muhtar tidak memungkiri bahwa ada kemajuan di Mataram. "Tapi saya lihat kemajuannya agak lamban," pungkasnya. (fit)

Komentar