| Muhtar |
Muhtar
mencontohkan di Lingkungan Moncok Karya, Kelurahan Pejarakan, warga di sana
swadaya menyewa mobil bak terbuka untuk mengangkut sampah. "Ada yang iuran
Rp 10 ribu, ada yang Rp 30 ribu, ada yang Rp 50 ribu, kita sewa mobil, kita
angkut sampah itu langsung ke Kebon Kongok," akunya. Terkait tingginya
partisipasi masyarakat ini, Pemkot Mataram seharusnya memberikan dukungan
maksimal. Sebab, sampai saat ini pun, belum ada solusi yang mampu menuntaskan
persoalan sampah di Mataram.
Politisi
Gerindra ini mengaku masih sering melihat masyarakat membuang sampah di
lahan-lahan kosong yang mereka temukan. Hal itu, menurut Muhtar sebagai bentuk
keputusasaan masyarakat bagaimana mengatasi sampah. "Akhirnya mereka buang
di lahan yang kosong," cetusnya. Fenomena warga membuang sampah di lahan
kosong mengindikasikan bahwa program pemerintah terkait penanganan sampah,
belum maksimal.
"Kalau
partisipasi masyarakat di Kota Mataram ini tidak perlu diragukan lagi,"
kata Muhtar. Terkait pernyataan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), dia
tidak menyangkal bahwa retribusi kebersihan yang dipungut pemerintah melalui
rekening PDAM, belum transparan arah penggunanya. Retribusi kebersihan itu,
jika diakumulasikan, Muhtar yakin hasilnya cukup signifikan. "Kalau itu
kita manfaatkan dengan baik, saya rasa digunakan untuk memenuhi sarana
prasarana," terangnya.
Muhtar
mengajak Pemkot Mataram bercermin dari daerah lain. Ia memberi contoh, Kota
Surabaya yang luasnya mencapai 350 kilometer persegi dengan jumlah penduduk
mendekati 3 juta jiwa, mampu membuat kota pahlawan itu bersih. Mataram pun
sebenarnya bisa seperti Surabaya. Tinggal sekarang bagaimana tata kelola
persampahan. Muhtar tidak memungkiri bahwa ada kemajuan di Mataram. "Tapi
saya lihat kemajuannya agak lamban," pungkasnya. (fit)
Komentar