Potensi PAD Cukup Menjanjikan

PASCAHENGKANGNYA PT. Mas Murni Sejahtera setelah memutuskan kerjasama dengan Pemkot Mataram, menyisakan persoalan. Pascaditinggal PT. MMS, hingga kini, pengelolaan aset TWLB (Taman Wisata Loang Baloq), semakin tidak jelas. Pemkot Mataram pernah menyampaikan bahwa mereka akan mengelola sendiri lahan tersebut. Nyatanya, hingga kini komitmen itu belum juga terlaksana.

Sejauh ini, belum jelas, kepada SKPD mana Pemkot Mataram menyerahkan pengelolaan TWLB itu. Namun demikian, pada praktiknya, setiap pengunjung yang datang ke TWLB, dikenakan biaya masuk. Hal ini kerap dikeluhkan oleh pengunjung. Pasalnya, meski telah dipungut, namun tidak diimbangi dengan pelayanan yang maksimal.

Mulai dari ketersediaan fasilitas hingga kebersihan. Toilet misalnya. Meskipun ada fasilitas toilet di sana, tetapi sangat jauh dari kata bersih. Belum lagi sampah yang berserakan di mana-mana. Kondisi ini mengesankan bahwa pengelola TWLB hanya memprioritaskan retribusi tanpa memperhatikan kenyamanan pengunjung.

Mestinya, dari retribusi pas masuk yang dipungut dari para pengunjung, pengelola TWLB bisa berinovasi. Bagaimana menciptakan suasana aman dan nyaman di sana. Artinya, retribusi yang dipungut dari para pengunjung tidak sepenuhnya masuk ke kantong oknum pengelola. Pengelola seharusnya berpikir bagaimana menyisihkan sebagian penghasilan itu untuk memelihara fasilitas TWLB dan juga kebersihannya.

Karena, setiap pengunjung yang datang ke TWLB, hampir pasti menghasilkan sampah dari aktivitas mereka berkuliner di sana. Sehingga, jika masalah kebersihan ini tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah maupun pihak pengelola, tentu akan mengganggu kenyamanan pengunjung. Ketika pengunjung sudah merasa tak nyaman, bisa saja mereka memilih alternatif tempat berwisata selain TWLB.

Otomatis, ini akan mempengaruhi pula penghasilan para PKL di sana. Tidak hanya di TWLB, kondisi yang sama terlihat di hampir semua objek wisata milik Pemkot Mataram. Seperti Taman Selagalas dan juga Pantai Ampenan. Di dua tempat tersebut, para pengunjung sering mengeluhkan sulitnya mendapatkan toilet. Kalaupun ada, kondisinya tidak bersih.

Mestinya, kalau pemerintah serius menjadikan Mataram sebagai kota jasa perdagangan, hal-hal semacam itu harusnya menjadi pemikiran yang sungguh-sungguh. Objek Wisata di Kota Mataram, kalau dikelola secara benar, akan menjadi salah satu potensi PAD yang cukup menjanjikan. Sayangnya, pemerintah belum serius menjadikan pariwisata lokal Kota Mataram, sebagai salah satu potensi yang harus diseriusi.

Padahal, kalangan legislatif sudah sering menyuarakan agar Pemkot Mataram segera menunjuk dan menentukan SKPD mana yang berhak mengelola objek wisata. Selama ini, Pemkot Mataram belum menunjuk SKPD mana yang harus mengelola TWLB, Taman Selagalas dan lain-lain. Belum adanya SKPD yang bertanggung jawab atas pengelolaan TWLB, disebut-sebut sebagai penyebab, amburadulnya pengelolaan objek wisata tersebut.


Padahal, kalau saja, pengelolaan TWLB dan objek wisata lainnya diserahkan kepada Dinas Pariwisata, kemungkinan hasilnya akan lebih maksimal. (*)

Komentar