Tolak Penarikan Retribusi PKL

HM. Noer Ibrahim
RENCANA Pemkot Mataram menarik retribusi terhadap PKL, terutama yang menggunakan lahan pemerintah, menjadi sorotan kalangan Dewan. Sekretaris Komisi II DPRD Kota Mataram, Drs. HM. Noer Ibrahim bahkan tidak setuju atas rencana tersebut. Meskipun pemerintah sedang merencanakan regulasi untuk mendukung penarikan retribusi kepada PKL.

‘’Seharusnya tidak boleh ditarik retribusi,’’ katanya kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Senin (22/5). Karena, kalau pemerintah menarik retribusi kepada PKL, sama saja pemerintah melegalkan PKL yang menggunakan fasilitas publik. Karena seperti diketahui, sebagian besar PKL di Kota Mataram berjualan di fasilitas-fasilitas publik. Seperti trotoar dan lain sebagainya.

Dewan menentang rencana penarikan retribusi PKL demi meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah), dengan membiarkan para PKL berjualan di sembarang tempat. ‘’Saya ndak setuju kalau itu ditarik retribusi, kan mereka (PKL, red) berjualan di trotoar,’’ tegasnya. Trotoar dibangun sejatinya untuk para pejalan kaki dan kepentingan umum lainnya.

Pemerintah, lanjut Noer Ibrahim, kemungkinan bisa menarik retribusi PKL, jika mereka berjualan pada malam hari. ‘’Di malam hari kan tidak ada kegiatan,’’ cetusnya. Namun kenyataannya, PKL di Mataram berjualan sejak pagi hari. ‘’Justru itu salah, seharusnya pemerintah jangan melegalkan,’’ katanya. Ia menyarankan, pemerintah menyiapkan satu tempat khusus bagi para PKL.

Peran pemerintah dalam hal ini, melakukan penataan dan mengatur para PKL. ‘’Dimana mereka (PKL, red) senangnya,’’ imbuhnya. Namun, pemilihan lokasi juga perlu mempertimbangkan tingkat kunjungan masyarakat. Politisi Golkar ini mencontohkan kebijakan yang telah dilaksanakan sejumlah daerah lain di Pulau Jawa. ‘’Contoh di Jawa, di lantai 13 ada tempat makan. Ngumpul semua pedagang. Jadi kalau mau makan, kita harus cari lantai 13 itu,’’ terangnya.

Hal ini, seharusnya bisa ditiru oleh Pemkot Mataram. Noer Ibrahim menilai lokasi yang paling tepat untuk membuat pusat PKL, adalah di TWLB (taman wisata Loang Baloq). ‘’Loang Baloq ini harus diperankan peningkatan ekonomi kerakyatannya,’’ demikian Noer Ibrahim. Ia meminta agar pengelolaan TWLB diserahkan kepada Dispar (Dinas Pariwisata) Kota Mataram.

‘’Pokoknya kasi orang mengelola, supaya dia (TWLB, red) professional, bisa kelihatan rapi, ada penataan, ada pembersihan,’’ bebernya. Anggota Dewan dapil Mataram – Sekarbela ini mengaku miris melihat kondisi TWLB saat ini. ‘’Lebih laku Pantai gading yang dikelola oleh masyarakat dan seorang RT, sementara di Loang Baloq pejabat ndak jelas yang mengelola,’’ katanya.


Penarikan biaya masuk ke TWLB, kata Noer Ibrahim, justru keliru. ‘’Ada apa di dalam, kalau hanya dipungut begitu saja,’’ cetusnya. Pemerintah harus mulai memikirkan pengelolaan TWLB yang lebih baik. Sehingga semua PKL yang saat ini berjualan di trotoar bisa dikumpulkan dalam satu area di TWLB. Namun, ia menekankan agar pemerintah membuat sesuatu yang dapat menarik minat pengunjung ke TWLB. Sehingga, ketika PKL digiring berjualan ke dalam area TWLB, tidak ada lagi kekhawatiran bahwa dagangan mereka tidak akan laku. (fit)

Komentar